—just-exploring-myself—

January 5, 2006

New Year’s Mourning

Filed under: munawar

Nampaknya bangsa Indonesia sudah harus membiasakan diri untuk “menangis” di setiap awal tahun masehi. Jika awal 2005 (tepatnya akhir 2004) kita diguncangkan oleh gempa dan tsunami maha dahsyat di Aceh maka di awal tahun 2006 ini giliran Jawa Timur dan Jawa Tengah yg dihempas bencana. Meskipun skala kerusakannya tidak sedahsyat tsunami Desember 2004, tetap saja bencana di Jember dan Banjarnegara menyisakan kedukaan yang sangat bagi kelurga para korban. Ketika saya melihat liputan beberapa stasiun TV, bencana banjir bandang di Jember terlihat seperti tsunami mini yang cukup dahsyat hingga mampu meluluh-lantakan tiga kecamatan sekaligus. (more…)

December 30, 2005

Last Friday 2005

Filed under: munawar

Ada yang rada istimewa dalam Namaaz-e Jom’eh di Masjid Astra kali ini. Karena merupakan Jum’at terakhir di tahun 2005, jamaahnya pun ga seramai biasanya. Mungkin karena sebagian pabrik dan kantor di sekitar masjid sudah banyak yang libur dan sebagian besar karyawan lainnya mengambil cuti akhir tahun.

Khatib Jum’at kali ini nyentrik juga, seorang habib dari Condet (namanya saya lupa). Temanya tentu saja tentang mensikapi pergantian tahun. Dalam khutbahnya beliau merasa heran kenapa sebagian besar orang mesti merayakan pergantian tahun. Padahal, dengan berakhirnya tahun 2005 sebenarnya kita telah kehilangan satu dari sedikit tahun umur kita. Kalau kehilangan uang, motor atau kehilangan pekerjaan kita bersedih, kenapa saat “kehilangan umur” tersebut kita malah bergembira dan berpesta-pora. Demikian argumen sang Habib… (more…)

December 26, 2005

Tahiyatul masjid

Filed under: munawar

Mana yang lebih utama, menghormati manusia atau menghormati masjid?

Pertanyaan diatas selalu muncul dalam benak saya setiap kali menghadiri ibadah Jum’at. Kebetulan hampir setiap Jum’at saya shalat di Masjid Astra. Karena letaknya di kompleks pabrik dan perkantoran, shalat Jum’at disana selalu penuh sesak. Belum lagi keberadaan pasar dadakan yang kian meramaikan suasana Mesjid Astra sebelum maupun setelah shalat Jum’at berlangsung.

Kita maklum, karena satu dan lain hal tidak semua orang dapat hadir ke peribadatan Jum’at sebelum adzan berkumandang . Lumayan banyak jemaah yang baru datang setelah khatib naik mimbar. Biasanya mereka yang terlambat langsung mencari lokasi shaf di deret belakang atau serambi mesjid. Namun ada juga yang “memaksa” mencari shaf yang ada di bagian dalam (utama) masjid. Setelah dapat, biasanya setelah senyum kanan kiri, sang jamaah yang terlambat melakukan shalat tahiyat masjid alias shalat sunah sebagai penghormatan kepada mesjid. Lalu, dimana masalahnya? Bukankah memang sangat dianjurkan oleh nabi untuk memperbanyak ibadah pada hari Jum’at?

(more…)

December 13, 2005

Cinta tanpa pamrih

Filed under: munawar

….disarikan dari al Tanwir, sebuah tulisan tentang C.I.N.T.A., semoga bermanfaat

Mencintai-Nya Tanpa Pamrih
KH. Jalaluddin Rakhmat

Khazanah ilmu tasawuf mengenal seorang perempuan yang dianggap sebagai salah satu dari para tokoh sufi terbesar sepanjang sejarah. Namanya Rabiah Al-Adawiyah. Konon, suatu hari Rabiah pernah diketemukan berlari-lari ke pasar dengan membawa seember air di tangan kanannya dan sebilah obor di tangan kirinya.
Orang-orang keheranan. Mereka bertanya, “Hai Rabiah, apa yang kau lakukan?” Rabiah menjawab, “Dengan air ini, aku ingin memadamkan neraka dan dengan api ini aku ingin membakar surga; supaya setelah ini orang tidak lagi menyembah Tuhan karena takut akan neraka dan karena berharap akan surga. Aku ingin setelah ini hamba-hamba Tuhan akan menyembah-Nya hanya karena cinta.”

Seperti yang pernah diucapkan Imam Ali kw, banyak orang menyembah Tuhan karena mengharapkan sesuatu. Ibadat mereka lakukan sebagai suatu investasi agar suatu saat Tuhan membayar hasil ibadat itu kepada mereka. Imam Ali menyebut ibadat mereka yang mengharapkan pahala sebagai ibadat para pedagang. Ada juga orang yang menyembah Tuhan karena takut akan siksa-Nya. Mereka takut menghadapi azab Tuhan. Menurut Imam Ali, ibadat mereka sama seperti pengabdian seorang budak belian kepada tuannya.

Ibadat yang sebenarnya adalah ibadat karena cinta. Itulah ibadat orang-orang merdeka. (more…)

THE GREATEST

Filed under: munawar


The greatest sin is fear
The greatest recreation is work
The greatest calamity is hopeless
The greatest bravery is patience
The greatest teacher is experience
The greatest secret is death
The greatest honour is faith
The greatest profit is good-child
The greatest gift is presence
The greatest capital is self-confidence

ali bin abi thalib kw






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here