The Years of Living Dangerously
Setidaknya ada dua orang mantan kawan sekolah saya yang sudah menikah lebih dari satu kali. Keduanya sudah bercerai dari istri pertama mereka tapi saat ini sudah mendapat gantinya. Ada lagi kawan sepekerjaan yang juga konon baru saja bercerai dari istri pertamanya.Tidak etis rasanya untuk membahas lebih rinci mengenai kehidupan pribadi kawan-kawan tersebut meski begitu besar keingintahuan saya mengapa pernikahan pertama mereka begitu singkat (kurang dari lima tahun). Keingintahuan makin besar karena sejauh pengamatan saya kawan-kawan saya tersebut merupakan pribadi-pribadi yang menyenangkan, sabar, baik hati dan tidak sombong (koq kayak Catatan si Boy :p). Bukankah sifat-sifat tersebut merupakan modal awal yang berharga bagi seorang suami untuk membangun suatu keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah?
Konon kabarnya, lima tahun pertama sebuah perkawinan merupakan salah satu masa paling kritis. Lima tahun perkawinan bisa dibilang sebagai Year of Living Dangerously. Analoginya adalah seperti sebuah pesawat yang sedang take-off alias tinggal landas. Kritis karena saat itulah pesawat tengah berupaya mencari “keseimbangan” dari sebuah “mahluk” darat yang menapak pada landas pacu untuk menjadi sebuah “mahluk” angkasa yang harus berpijak pada angin. Kritis karena pada saat take-off lah seluruh tenaga dorong pesawat difungsikan secara maksimal. Tapi saat itu pula seluruh gaya yang menghambat pesawat (gaya tarik bumi, hambantan angin, dll) terjadi dengan saat intensif. Mungkin saat tinggal landas (dan juga saat mendarat) inilah seluruh sistem pesawat difungsikan pada kondisi paling maksimal.
Begitu pula mungkin sebuah perkawinan. Pada masa awal perkawinan merupakan masa yang paling banyak menguras sumber daya baik fisik maupun emosi pasangan suami istri. Keduanya kadang berlomba untuk menunjukkan besarnya rasa cinta dan pengorbanannya untuk keluarga. Tapi cinta dan pengorbanan yang disampaikan dengan terlalu bersemangat kadang kala justru menimbulkan masalah baru, benturan ego. Benturan ego karena masing-masing menganggap caranya untuk menunjukkan cinta adalah yang terbaik. Bagi suami misalnya, menganggap bahwa dengan mencari materi lebih banyak adalah yang terpenting bagi keluarga. Sebaliknya bagi sang istri misalnya justru memperbanyak waktu kebersamaan dalam keluarga adalah yang terpenting.
Menurut saya, solusi yang utama untuk mengatasi benturan egoisme adalah dengan memperbesar rasa keikhlasan. Keikhlasan untuk menerima pasangan apa adanya. Sayangnya, keikhlasan menerima kondisi pasangan kita apa adanya sangat mudah untuk diucapkan tapi (bagi saya) sangat susah untuk diterapkan. Kadang ego membuat kita berusaha untuk menjadikan pasangan kita untuk menjadi “sesuatu yang kita minta” tanpa peduli apa yang sebenarnya pasangan kita inginkan bagi dirinya sendiri. Syukur-syukur kalau apa yang kita mau bisa idem dengan apa yang diinginkan pasangan kita, potensi konfliknya bisa jadi minimal. Lebih lanjut, bagi saya keikhlasan untuk sedikit menjadi apa yang pasangan kita inginkan juga penting. Apalagi bila yang diminta pasangan kita adalah hal-hal yang mengandung kebaikan yang mungkin selama ini luput dari sudut pandang kita pribadi. Sudut pandang pasangan boleh jadi bagaikan auxiliary mirror pada kendaraan yang sangat membantu mengurangi blind spot saat berkendara.
Memulai sebuah perkawinan memang sebuah keputusan yang sangat penting dan sulit bagi seseorang, tapi menjaganya jauh lebih sulit. Karena itu saya kadangkala kagum dengan pasangan yang mampu menjaga perkawinannya hingga selama berbelas atau berpuluh tahun bahkan till death do us part
- Mencintai seseorang adalah keindahan
- Dicintai seseorang adalah anugerah
- Saling menjaga cinta adalah perjuangan