—just-exploring-myself—

January 5, 2006

New Year’s Mourning

Filed under: munawar

Nampaknya bangsa Indonesia sudah harus membiasakan diri untuk “menangis” di setiap awal tahun masehi. Jika awal 2005 (tepatnya akhir 2004) kita diguncangkan oleh gempa dan tsunami maha dahsyat di Aceh maka di awal tahun 2006 ini giliran Jawa Timur dan Jawa Tengah yg dihempas bencana. Meskipun skala kerusakannya tidak sedahsyat tsunami Desember 2004, tetap saja bencana di Jember dan Banjarnegara menyisakan kedukaan yang sangat bagi kelurga para korban. Ketika saya melihat liputan beberapa stasiun TV, bencana banjir bandang di Jember terlihat seperti tsunami mini yang cukup dahsyat hingga mampu meluluh-lantakan tiga kecamatan sekaligus.

Kalau dalam musibah tsunami 2004, saya berani bilang bahwa musibah tersebut benar-benar “show of forces” nya Yang Maha Kuasa. Melihat kedahsyatan tsunami yang terekam dalam beberapa kamera amatir, bencana tsunami benar-benar fenomena alam yang untouchable bagi manusia, setidaknya bagi bangsa Indonesia. Menghindar dan berusaha meminimalisir kerusakan merupakan upaya maksimal yang bisa dilakukan manusia sebagaimana telah dilakukan oleh bangsa Jepang pasca tsunami dahsyat di sana tahun 60-an.

Sebaliknya dalam kejadian di Jember dan Banjarnegara, amat besar kontribusi manusia dalam bencana tersebut. Hutan yang sudah di setting oleh alam sebagai pelindung manusia malah dikonversi menjadi lahan pertanian dan malahan ada yang ditebang habis sampai gundul. Mengapa hal tersebut sampai terjadi tentu tidak lepas dari nafsu manusia (baca para cukong) untuk mengeruk lebih banyak keuntungan dari penjualan kayu-kayu dari hutan tersebut. Saya tidak berani berspekulasi apakah para penduduk desa yang terkena musibah selama ini ikut menikmati hasil penebangan tersebut. Yang pasti sekarang mereka-lah korban dari keserakahan para cukong kayu yang saat ini mungkin sedang asyik menikmati liburan Tahun Baru. Tepat sekali kata-kata bijak Mahatma Gandhi ” Semesta alam ini cukup melimpah untuk menghidupi seluruh manusia, tapi tidak untuk ketamakan seorang manusia”.

Potensi bahaya juga sedang mengintai Jakarta. Banjir yang tahun demi tahunnya makin parah sudah diambang mata. Makin parah karena langkah-langkah penanganannya sangat sporadis sementara pembenahan tata kota yang sebenarnya merupakan sumber utama banjir nyaris tidak tersentuh. Tanpa ada perbaikan mendasar dalam tata kota dan perilaku masyarakat, nampaknya Jakarta yang bebas banjir masih jadi impian belaka. Begitu juga bila tidak ada perubahan perilaku yang gemar menarik keuntungan sesaat dari hutan-hutan kita, New Year’s Mourning akan terus berlanjut.

Tuhan, mungkin Kau ku abaikan
Tak ku dengarkan peringatan
Kusakiti Engkau sampai perut bumi
Maafkan kami, oh Rabbi

Engkau Yang Perkasa, jangan marah lagi
Biarkanlah kami, songsong matahari

Engkau Yang Pengasih, ampunilah dosa
Memang semua ini, kesalahan kami

Oh, Tuhan, ampuni kami
Oh, Tuhan, tolonglah kami

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://drmwn.blogsome.com/2006/01/05/new-years-mourning/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here