Last Friday 2005
Ada yang rada istimewa dalam Namaaz-e Jom’eh di Masjid Astra kali ini. Karena merupakan Jum’at terakhir di tahun 2005, jamaahnya pun ga seramai biasanya. Mungkin karena sebagian pabrik dan kantor di sekitar masjid sudah banyak yang libur dan sebagian besar karyawan lainnya mengambil cuti akhir tahun.
Khatib Jum’at kali ini nyentrik juga, seorang habib dari Condet (namanya saya lupa). Temanya tentu saja tentang mensikapi pergantian tahun. Dalam khutbahnya beliau merasa heran kenapa sebagian besar orang mesti merayakan pergantian tahun. Padahal, dengan berakhirnya tahun 2005 sebenarnya kita telah kehilangan satu dari sedikit tahun umur kita. Kalau kehilangan uang, motor atau kehilangan pekerjaan kita bersedih, kenapa saat “kehilangan umur” tersebut kita malah bergembira dan berpesta-pora. Demikian argumen sang Habib…
Saya sendiri termasuk orang yang tidak terlalu antusias merayakan pesta pergantian tahun, tapi bukan semata karena alasan “spiritual” seperti sang Khatib tadi. Alasan yang lebih memberatkan saya untuk berpesta tahun baru mungkin karena pada dasarnya saya bukan orang yang gemar pesta dan keramaian. Keramaian lalu lintas seperti saat malam tahun baru atawa takbiran selalu bikin saya stress. Malam takbiran Lebaran yang lalu misalnya saya sempat berencana bawa anak dan keponakan keliling Jakarta tapi urung dilanjutkan setelah terjebak kemacetan hebat di depan Stasiun Gambir. Pikir saya, daripada stress lihat kelakuan pengendara motor yang selap-selip di depan dan kiri kanan mobil saya, mending pulang aja deh, takbiran di mesjid deket rumah. Untunglah anak dan keponakan yang saya bawa juga ga terlalu antusias untuk meneruskan acara keliling Jakarta-nya. Semoga malam minggu besok mereka memberikan pengertian yang sama sehingga saya bisa bebas stress sekaligus hemat bensin di malam tahun baru nanti.
Agaknya materi khutbah Habib tadi layak untuk kita cermati. Sudah sepantasnya malam-malam pergantian tahun kita jadikan momen untuk sedikit mengevaluasi apa yang sudah dan apa yg akan kita perbuat. Sudahkah umur-umur kita tersebut kita manfaatkan dengan baik, sudahkan keberadaan kita di tahun-tahun sebelumnya memberi manfaat bagi lingkungan, keluarga, atau bahkan bagi diri kita sendiri. Apakah state (pakai istilah termodinamika nih) diri kita selalu berubah ke arah perbaikan tahun demi tahunnya?. Dan masih banyak lagi pertanyaan buat diri kita….
Soal perubahan dan perbaikan (improvement) saya teringat dengan sebuah wisdom business tentang pengalaman karir dan pekerjaan yang disampaikan Radio PASS FM. Sang konsultan mengajak kita bertanya pada diri sendiri apakah pengalaman kerja kita sebanding dengan masa kerja kita. Memangnya bisa pengalaman kerja tidak sama dengan masa kerja? Bukankah dalam CV kita selalu menulis pengalaman kerja 5, 10, atau sekian tahun?. Menurut sang konsultan, masa kerja 10 tahun belum menjamin seseorang memiliki pengalaman kerja 10 tahun juga. Pengalaman kerja 10 tahun adalah jika setiap tahun dalam 10 tahun tersebut kita selalu melakukan pembaharuan dalam aptitude maupun attitude kerja kita. Di lain pihak ada (atau mungkin banyak) orang yang memiliki masa kerja 10 tahun tapi hanya memiliki pengalaman kerja satu tahun saja. Selebihnya, selama sembilan tahun berikutnya orang tersebut hanya meng-copy paste apa yang dia lakukan di tahun pertamanya. Sungguh penjelasan yang menarik sekaligus membawa saya pada pertanyaan “Kira-kira saya termasuk yang mana ya?”
Akhirul kalam, di penghujung 2005 ini saya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada siapa saja yang baik sengaja maupun tidak tengah membaca tulisan saya ini. Semoga di tahun depan kita bisa berbuat lebih baik lagi. Insya Allah…
tempora mutantur et nos mutamur in illis.
time are changing and we are changing with them