…sekedar menghidupkan kembali blog ini….
Sudah lama banget blog ini tidak saya tengok. Sampai sampai ada beberapa comment yang tidak segera saya moderasi. Mohon maaf karena ternyata tanggapan pembaca yang mestinya saya moderasi tidak terkirim ke e-mail address saya. Maklum sewaktu mendaftar ke www.blogsome.com saya menggunakan alamat e-mail kantor. Dan ternyata ada kebijakan dari our IT guys yang memblokir semua surat yang menggunakan alamat yahoo.com. Mungkin sudah saatnya saya memindahkan alamat moderasi saya ke tempat lain.
Berhubung saya belum juga punya ide untuk posting-posting berikutnya, saya tampilkan beberapa foto anak saya saja yah. Kalau yang belum kenal, namanya Syakila, saat ini usianya sudah lewat 3 tahun. Kepenginnya sih saat ini sudah ada adiknya, tapi sampai saat ini ibunya Syakila belum ada tanda-tanda bakal hamil lagi. Doa’in aja semoga cepet ditambahkan amanah oleh Yang Maha Pemberi, Amin

Minyak solar yang dihasilkan proses ini memiliki kualitas emisi yang lebih baik daripada minyak solar konvensional. Kandungan HC dan PM turun hingga 30%, CO turun hingga 40% dan NOx turun hingga 8%. Kandungan sulfurnya pun sangat rendah, hingga 10 ppm (bandingkan dengan kadar sulfur PertaDEX yang mencapai 300 ppm). Akan tetapi, untuk mendapatkan cost-competiveness (di bawah 1$ per MBTU) dengan minyak solar konvensional, dibutuhkan cadangan gas yang cukup besar. Selain itu, cadangan gas-nya pun harus berkategori stranded gas reservoir, yaitu cadangan gas yang membutuhkan biaya transportasi besar untuk digunakan langsung (sebagai CNG maupun LNG). Jika tidak, tentu lebih ekonomis untuk mengkonsumsi langsung tanpa melalui proses Fischer-Tropsch. Sebagai informasi, saat ini Shell sudah memproduksi minyak solar GTL dari kilangnya di Bintulu, Malaysia.